Overview
🎨 Wayang Kertas Mbah Brambang
Pelestari Wayang Kertas Terakhir dari Desa Wirun
Di tengah geliat zaman yang serba digital dan cepat, di sebuah rumah sederhana di Dusun Godegan, Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, hidup seorang kakek yang tak lelah berkarya dengan cara yang nyaris dilupakan: membuat wayang dari kertas dengan tangan dan hati.
Namanya Merto Wiredjo, namun semua orang mengenalnya sebagai Mbah Brambang. Di usia 87 tahun, beliau masih setia menyungging warna dan menatah bentuk pada kertas wondertex—seperti yang telah ia lakukan sejak tahun 1965.
📜 Dari Kecintaan Jadi Kehidupan
Semua bermula dari hobinya menonton pertunjukan wayang kulit di masa kecil. Ia jatuh cinta pada tokoh-tokoh dalam cerita Mahabharata, pada gemuruh gamelan, dan pada bayangan karakter yang hidup di balik kelir. Namun keterbatasan ekonomi membuat Mbah Brambang muda tidak bisa melanjutkan sekolah.
Tak kehabisan akal, ia membeli satu wayang jadi. Bukan untuk bermain, tetapi untuk dipelajari dan dijiplak sebagai contoh pertama buatannya sendiri.
“Saya tidak bisa menggambar. Tapi saya bisa menjiplak dan belajar,” katanya bersahaja.
Dengan kesabaran dan tekun belajar dari yang sudah ahli, tokoh Pandawa Lima menjadi karya pertamanya. Dari sana, keterampilannya berkembang hingga bisa membuat tokoh Kurawa, Punokawan, dan tokoh-tokoh wayang lainnya.
✂️ Kertas, Kuas, dan Kesetiaan
Wayang kertas buatan Mbah Brambang bukan sekadar mainan. Ia menggunakan kertas wondertex, sejenis kertas tahan air yang kuat dan awet. Catnya berupa bubuk warna yang dicampur minyak, lalu diaplikasikan dengan kuas dan tangan telanjang—tanpa kacamata.
Siang hari ia menatah, memahat bentuk dengan alat sederhana. Malam hari, diterangi lampu kuning, ia menyungging wayang dengan telaten. Begitulah ritmenya selama puluhan tahun.
Setiap bagian wayang—badan, tangan, gagang bambu—dibuat sendiri. Hasilnya? Wayang yang tampak hidup meski hanya dari selembar kertas.
💸 Harga yang Bersahabat, Karya yang Mendunia
Meski dibuat dengan teknik yang mirip dengan pembuatan wayang kulit, harga wayang kertas Mbah Brambang jauh lebih terjangkau:
-
Mulai dari Rp 30.000 hingga Rp 300.000, tergantung ukuran dan kompleksitasnya.
-
Tokoh yang paling diminati wisatawan asing? Anoman—karena wajahnya yang putih dan tampilannya yang khas.
Wayang-wayang buatannya pernah dibeli oleh wisatawan dari Malaysia, Singapura, Belanda, Korea Selatan, bahkan Hong Kong. Namun, tidak sedikit pula yang datang hanya untuk melihat, memotret, dan mengagumi.
🧭 Kunjungi Langsung: Wisata Budaya yang Hidup
Berkunjung ke rumah Mbah Brambang adalah pengalaman wisata budaya yang tak tergantikan. Anda tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga menyaksikan:
-
Proses menatah dengan tangan tua yang terampil.
-
Proses mewarnai yang penuh rasa dan filosofi.
-
Meja kerja sederhana dengan lampu bohlam tua, cangkir teh, dan puluhan kuas warna.
Pengunjung bisa membeli karya, memesan tokoh tertentu, atau hanya berbincang dan menyerap kebijaksanaan dari lelaki yang menjaga warisan leluhur dengan cinta.
🔁 Harapan untuk Generasi Penerus
Kini, Mbah Brambang dibantu oleh dua anaknya. Ia berharap bahwa setelah dirinya tak lagi kuat berkarya, keahlian ini tidak ikut lenyap. Ia ingin ada anak muda yang melanjutkan.
“Wayang kertas ini lebih murah dari kulit, jadi bisa menjangkau siapa saja. Jangan sampai hilang tinggal cerita,” harapnya.
✨ Penutup
Di tengah arus globalisasi, Mbah Brambang menunjukkan bahwa budaya tidak selalu harus megah—asal dibuat dengan hati, ia akan tetap hidup. Wayang-wayang kertasnya mungkin sederhana, tetapi di balik tiap goresan warna dan pahatan kertas, tersimpan semangat pelestarian, perjuangan hidup, dan cinta akan budaya Jawa.
Datanglah, lihatlah, dan rasakan sendiri—kisah budaya yang hidup di tangan seorang kakek dari Desa Wirun.
📍 Dusun Godegan, Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo
📷 Wisata budaya – Proses pembuatan – Koleksi wayang kertas
